Kamis, 10 November 2011

Tari Sampiung


Tari Sampiung


Tontonlah Tari Sampiung yang dipertunjukkan sebagai kelengkapan upacara hari-hari penting seperti Seren Taun, Pesta Panen, Ngaruat, Rebo Wekasan, bahkan pada hari raya kenegaraan seperti pada perayaan Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Asal mula nama Tari Sampiung karena lagu pengiringnya berjudul Sampiung. Kadang disebut juga Tari Ngekngek, karena waditra pengiringnya adalah Tarawangsa (alat Gesek, seperti Rebab) yang biasa disebut Ngekngek. Sebagian orang menyebutnya Tari Jentreng, karena salah satu waditra pengiringnya adalah Jentreng, yaitu alat petik berupa kacapi dengan ukuran kecil, yang juga biasa dipinjam namanya untuk nama tarian yang ditampilkan.
Anda dapat menikmati Tari Sampiung ini di ruang tertutup, seperti di rumah yang mempunyai ruangan luas, di bale atau pendopo. Di depan penabuh ditempatkan sesajen beserta pedupaan, dan di depannya sesajen arena untuk menari, dengan para penari duduk mengitari penabuh dan sesajen menunggu giliran menari.

Ronggeng Gunung


Ronggeng Gunung


Ronggeng Gunung merupakan bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring, sang penari utama adalah seorang perempuan yang dilengkapi dengan sebuah selendang. Selain untuk kelengkapan dalam menari, selendang juga dapat digunakan untuk "menggaet" lawan (biasanya laki-laki) untuk menari bersama dengan cara mengalungkan ke lehernya.
Perkembangan Ronggeng Gunung pada periode tahun 1904 sampai tahun 1945 banyak mengalami pergeseran nilai dalam penyajiannya, misalnya dalam cara menghormati yang semula merapatkan tangan di dada berganti dengan cara bersalaman. Karena tidak sesuai dengan adat-istiadat, maka pada tahun 1948 kesenian Ronggeng Gunung dilarang dipertunjukkan untuk umum. Baru pada tahun 1950, kesenian Ronggeng Gunung dihidupkan kembali dengan beberapa pembaruan, baik dalam tarian maupun dalam pengorganisasiannya sehingga kemungkinan timbulnya hal-hal negatif dapat dihindarkan.
Untuk mencegah pandangan negatif terhadap jenis tari yang hampir punah ini diterapkan peraturan-peraturan yang melarang penari dan pengibing melakukan kontak (sentuhan) langsung. Beberapa adegan yang dapat menjurus kepada perbuatan negatif seperti mencium atau memegang penari, dilarang sama sekali. Peraturan ini merupakan suatu cara untuk menghilangkan pandangan dan anggapan masyarakat bahwa ronggeng identik dengan perempuan yang senang menggoda laki-laki.

Ronggeng Amen


Ronggeng Amen



Ronggeng Kaler (kaler berarti utara) lebih dikenal sebagai Ronggeng Amen. Ronggeng Amen merupakan pengayaan dari seni Ronggeng Gunung. Disebut Ronggeng Kaler karena asal dan daerah penyebarannya di wilayah bagian utara Kabupaten Ciamis atau Kuningan, yang perpaduannya menghasilkan Ronggeng Amen/Kidul yang lebih "laku" di masyarakat, mungkin karena lebih meriah sebab sudah menggunakan gamelan kliningan dan lagu-lagu Rancagan.
Berbeda dengan Ronggeng Gunung, dalam Ronggeng Kaler penyanyi tidak merangkap sebagai penari. Penyanyinya biasa disebut pesinden sehingga bentuknya hampir mirip dengan Kliningan di daerah utara Jawa Barat yang menggunakan perangkat gamelan secara lengkap. Ronggengnya lebih dari dua orang dan musik pengiringnya adalah seperangkat gamelan lengkap dengan lagu-lagu kliningan. Perkembangannya sekarang telah melalui proses modifikasi dan daya kreatifitas pada idiom-idiom tari tradisi dan penyajiannya. Gaya penyajian Ronggeng Amen tetap menggunakan pola lingkaran dengan titik sentral, para penarinya berada di dalam lingkaran dengan dikelilingi oleh para penari laki-laki.

Tari Wayang


Tari Wayang


Tari WayangDi antara sekian banyaknya kesenian atau tarian yang ada di Jawa Barat,tari wayang adalah salah satunya. Pada awalnya tari wayang tampil dalam kesenian Wayang Orang, yaitu suatu bentuk teater daerah yang tempat pementasan dan perlengkapannnya sudah mengikuti teater modern Barat. Misalnya pentasnya yang berbentuk proscenium (satu arah) serta menggunakan layar depan, layar belakang dan seben (penyekat samping). Kemudian pentas itu pun menggunakan setting yang merupakan layar belakang atau layar sampingyang bergambar dan disesuaikan dengan cerita serta menggunakan tata cahaya
dan tata suara seperti pentas modern Barat.
Cerita yang dipentaskan dalam kesenian Wayang Orang adalah cerita wayang, tetapi dimainkan oleh para pemeran yang harus menguasai gerak tari wayang, suara para pemeran pun harus disesuaikan dengan peran wayang yang diperankannya. Setiap tokoh tokoh wayang memiliki patokan tersendiri mengenai gaya bicaranya dan geraknya. Dan ini harus sesuai dengan nada-nada tertentu sehingga tidaklah mudah menjadi pemain wayang orang. Pemain Wayang orang harus pandai menari serta mempunyai perbendaharaan gerakan wayang bagi kelengkapan peranannya.
Seiring dengan berjalanya waktu dan bergantinya jaman, para penggarap kesenian Wayang Orang kemudian mengkemas dalam bentuk tarian. Puncak kejayaan tari Wayang yakni pada masa berakhirnya penjajahan Jepang. Pada masa itu, banyak bermunculan perkumpulan kesenian wayang orang yang mengajarkan tari Wayang. Saat ini ada beberapa daerah di Jawa Barat yang masih tetap melestarikan tari Wayang tersebut antara lain Bogor, Garut, Sumedang, dan Bandung. Masing-masing daerah mempunyaimotif gerak yang spesifik.
Biasanya tari wayang dibawakan oleh pria dan Wanita. Tarian senantiasa dilatarbelakangi oleh suatu peristiwa dengan karakter tokoh yang berbeda-beda. Berdasarkan penyajiannya, tari Wayang dikelompokkan menjadi beberapa bagian, antara lain :
- Tari Tunggal
- Tari Berpasangan,
- Tari Massal.
Karakter suatu tarian dapat dilihat dari berbagai aspek yang mendukung terwujudnya suatu tarian di antaranya, dari gerakan yang dibawakan, tata rias, tata busana serta gending pengiringnya. Dan karakternya pun mempunyai tingkatan atau jenis karakter yang berbeda, misalnya Satria lungguh untuk tokoh Arjuna, Abimanyu. Satria ladak lungguh untuk tokoh Arayana, Nakula dan Sadewa. Sementara karakter tari wanita, putri lungguh untuk tokoh Subadra, dan Arimbi, serta putri ladak untuk tokoh Srikandi.
Di dalam setiap tarian, musik pengiring merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Begitu pula pada tari Wayang, musik atau biasa disebut gending atau karawitan sangat berperan terutama untuk penegas gerakan, pembawa suasana, pendukung ungkapan karakter penokohan. Alat Gending atau karawitan yang dipakai sama dengan alat yang dipakai untuk mengiringi tari Keurseus.

Tari Buyung


Tari Buyung


Bagi sebagian orang termasuk Anda, nama ‘buyung’ mungkin membangkitkan pertanyaan. Buyung adalah sejenis alat yang terbuat dari logam ataupun tanah liat yang digunakan oleh sebagian wanita desa pada jaman dulu untuk mengambil air di sungai, danau, mata air, atau di kolam.
Tarian yang selalu ditampilkan pada puncak acara Seren Taun ini merupakan kreasi Emalia Djatikusumah, istri Pangeran Djatikusumah, seorang sesepuh adat. Gerak lembut dan nuansa alam di kala bulan purnama mengilhami lahirnya karya cipta tari yang mengisahkan gadis desa yang turun mandi dengan teman-temannya untuk mengambil air di pancuran Ciereng dengan buyung.
Keunikan dan keistimewaan tarian ini adalah kemampuan para penari untuk menari di atas kendi, sambil menjunjung buyung.  Anda akan menyadari filosofi di setiap gerakan dalam tari Buyung yang memiliki makna tersirat. Menginjak kendi sambil membawa buyung di kepala (nyuhun) erat hubungannya dengan ungkapan “di mana bumi di pijak di situ langit dijunjung”. Membawa buyung di atas kepala sangat memerlukan keseimbangan. Hal ini berarti bahwa dalam kehidupan ini perlu adanya keseimbangan antara perasaan dan pikiran.
Pergelaran Tari Buyung dengan formasi Jala Sutra, Nyakra Bumi, Bale Bandung, Medang Kamulan, dan Nugu Telu memiliki makna yang menyiratkan bahwa masyarakat petani Sunda adalah masyarakat yang religius. Tuhan diyakini sebagai Kausa Prima (sebab akibat) dari segala asal-usul sumber hidup dan kehidupan. Sementara manusia merupakan mahluk penghuni bumi yang paling sempurna di antara mahluk-mahluk ciptaan Tuhan lainnya.

Tari Tayub


Tari Tayub


Bila tari Ketuk tilu termasuk tari pergaulan yang diiringi salah satuperangkat pengiringnya disebut waditra ketuk tilu. Maka tari pergaulan lainnya di Jawa Barat adalah tari tayub yang diiringi suatu perangkat gamelan yang lebih besar bentuk perangatnya dari pada seni ketuk tilu.
Tari TayubTari Tayub merupakan seni tradisi tahun 20-an yang terdapat hampir di seluruh wilayah Jawa barat. Gerak tariannya belum berpola, sehingga para penari bebas melakukan tariannya asalkan sesuai dengan irama gending/tabuhan yang mengiringinya. Spontanitas gerakan tari yang murni terlihat dalam tari Tayub ini, di mana para penari bersikap dan bergerak sesuai dengan kemampuan dan keterampilan mereka masing-masing.
Pada awalnya hanya dilakukan oleh kalangan menak atau priyayi (bangsawan Sunda) atau orang-orang dari lingkungan Pendopo serta para kuasa pabrik atau perkebunan. Akan tetapi dalam perkembangannya tari tayub ini merebak sampai kepada buruh-buruh pabrik atau perkebunan dan masyarakat di luar Kabupaten (lingkungan kerabat Bupati). Dengan demikian tari tayub kemudian bukan lagi milik para menak, melainkan milik masyarakat secara luas.
Banyak berbagai pengaruh yang membumbui acara pada tari tayub, hal ini disebabkan terlalu bebasnya luapan kegembiraan, terutama dari pengaruh minuman keras yang selalu disediakan ketika nayuban sedang berlangsung. Hal ini tentu saja ada yang pro dan kontra, terutama para ibu yang menyertai suaminya ke acara tari Tayub. Belakangan kebiasaan minum pada saat nayub tersebut sudah berkurang walaupun belum bisa dihilangkan sama sekali.
Cara penyajian pertunjukan nayuban ini adalah sebagai berikut :
Tatalu yang merupakan pemberitahuan bahwa pertunjukan akan segera dimulai. Beberapa Ronggeng menari sambil membawa baki berisi selendang dan kemudian diberikan kepada salah satu tamu terhormat. Ketika tamu terhormat ini sedang menari dengan Ronggeng, apabila ada salah satu di antara penonton ingin menari dengan Ronggeng yang lain, maka ia harus meminta izin terlebih dahulu kepada penari pertama, penari berikutnya yang meminta izin ini disebut mairan
Setelah selesai menari, para tamu memberikan sejumlah uang kepada para ronggeng, atau kalau tidak diberikan langsung, uang itu boleh dimasukkan ke tempat khusus yang disebut bokor dan ini disebut masak.
Seusai para tamu kehormatan menari, maka tamu-tamu yang lain pun diperbolehkan untuk menari. Pada puncaknya pagelaran Nayuban ini semakin memanas (mungkin karena pengaruh minuman keras yang disajikan pada pada acara ini), yang kemudian ada adegan yang disebut parebut kendang, dimana ketika salah seorang tamu sedang menari, muncul tamu lain menari mendekati pengendang sambil mengiming-iming uang, sehingga pengendang beralih perhatiannya kepada tamu yang meiming-iming uang tersebut, uang diberikan kepada pengendang, kemudian menari, pengendang pun beralih kepada tamu yang memberi uang tersebut. Hal ini dilakukan berulang oleh para tamu sehingga kadang terjadi percekcokan bahkan sampai baku hantam.
Pagelaran tari tayub atau nayuban ini biasanya dari jam 19.00 atau 20.00 sampai tengah malam, di tempat tertutup, seperti aula atau pendopo. Waditra yang digunakan pada acara tari tayub atau nayuban ini adalah :
- Seperangkat kendang.
- Saron I
- Saron II.
- Bonang.
- Rincik. (tidak dipakai dalam gamelan cirebonan)
- Gambang.
- Rebab atau Bangsing (untuk gamelan cirebonan)
- Goong.
- Sinden, merangkap Ronggeng.

Busana yang dikenakan dalam acara nayuban yaitu :
- Para Ronggeng memakaikain batik setengah badan, dimana badan bagian atasnya yang terbuka ditutupi dengan apok atau kain kebaya bercorak dan memakai ikat pinggang dari perak berwarna putih. Setiap ronggeng selalu menggunakan selendang panjang/sampur, yang disampirkan di pinggang atau pundak.
- Para penari laki-laki pakaiannya yang biasa dipakai oleh para menak atau undangan khusus yaitu takwa atau beskap, dan memakai sinjang di lamban, bendo, serta keris diselipkan dipinggang kanan belakang dan digunakan sebagai sampiran selendang.



Tari Merak


Tari Merak


Tari Merak merupakan tarian kreasi baru yang diciptakan oleh seorang koreografer bernama Raden Tjetjep Somantri pada tahun 1950an, dan tahun 1965 dibuat koreografi barunya oleh Dra. Irawati Durban Arjon dan direvisi kembali pada tahun 1985 dan diajarkan kepada Romanita Santoso pada tahun 1993. 
Tari Merak sebenarnya menggambarkan tentang tingkah laku burung merak jantan yang memiliki keindahan bulu ekor sehingga banyak orang yang salah memperkirakan bahwa tarian ini tentang tingkah laku merak betina. Seperti burung-burung lainnya, burung merak jantan akan berlomba-lomba menampilkan keindahan ekornya untuk menarik hati merak betina. Merak jantan yang pesolek akan melenggang dengan bangga mempertontonkan keindahan bulu ekornya yang panjang dan berwarna-warni untuk mencari pasangannya, dengan gayanya yang anggun dan memesona. Tingkah laku burung merak inilah yang divisualisasikan menjadi tarian merak yang menggambarkan keceriaan dan keanggunan gerak. Pesona bulu ekornya yang berwarna-warni diimplementasikan dalam kostum yang indah dengan sayap yang seluruhnya dihiasi payet, dan hiasan kepala (mahkota) yang disebut “siger” dengan hiasan berbentuk kepala burung merak yang akan bergoyang mengikuti gerakan kepala sang penari.
Tarian ini sendiri banyak ditarikan di beberapa event, baik nasional maupun internasional seperti perkenalan budaya di luar negeri. Bahkan Tari Merak pun ditampilkan sebagai tari persembahan dan penyambutan pengantin.